Muhammad Husen Latief

Stroberi dapat Menghambat Perkembangan Kanker Esofagus

In Medical Journal on April 12, 2011 at 3:57 am

Diterjemahkan dari artikel yang ditulis oleh Roxanne Nelson, diterbitkan di Medscape Medical News, pada 8 April 2011

8 April 2011 (Orlando, Florida)—Data baru menunjukkan bahwa dengan mengkonsumsi buah stroberi dapat membantu mencegah perburukan onset kanker esofagus, and mungkin juga bisa menjadi agen preventif alternatif selain obat-obatan.

Hal ini terungkap pada pertemuan The American Association for Cancer Research 102nd Annual Meeting, dimana dipaparkan sebuah penelitian pada 36 partisipan dengan lesi esofagial-displastik, 25 diantaranya mengalami perbaikan secara histologis setelah mengkonsumsi stroberi selama 6 bulan.

“Kami mendapati bahwa dengan mengkonsumsi stroberi selama 6 bulan dapat memperbaiki gambaran histologis lesi pra-kanker tersebut”, ujar Tong Chen, MD, PhD, asisten professor, divisi onkologi medik, Universitas Ohio State, Colombus.

“Kami juga menemukan bahwa stroberi kering-beku dapat mengurangi angka kejadian kanker di tingkat molekul, yang kemungkinan juga menguntungkan bagi jenis-jenis kanker lainnya,” demikian ujarnya pada Medscape Medical News.

“Kesimpulannya adalah stroberi dapat menjadi agen preventif alternatif atau bekerjasama dengan obat-obatan preventif lainnya untuk mencegah kanker esofagus,” dia menambahkan.

Walaupun temuan ini sangat menjanjikan, dr. Chen mengingatkan bahwa ini masih data awal yang masih perlu dibuktikan dalam penelitian-penelitian yang lebih besar.

Akan tetapi stroberi adalah buah yang aman dikonsumsi, tersedia di mana saja, dan tidak mahal, yang juga mengandung sejumlah vitamin dan mineral. “Jadi, mulai saat ini saya berani mengatakan, bahwa makan buah stroberi dapat membantu mereka yang beresiko tinggi terkena kanker esofagus untuk melindungi diri mereka terhadap penyakit ini”, kata dr. Chen.

Agen penting penyebab karsinoma sel skuamos di esofagus adalah karsinogen nitrosamine, yang terdapat dalam asap tembakau, beberapa jenis makanan tertentu, dan derajat keasaman pada lambung. Diantara beberapa karsinogen nitrosamine tersebut, terdapat N-nitrosomethylbenzylamine (NMBA), yang banyak ditemukan pada makanan bangsa China (Chinese foods).

Dalam sebuah penelitian pre-klinik, dr. Chen dan teman-temannya menggunakan jenis kanker esofagus yang dipicu oleh NMBA pada beberapa ekor tikus untuk menguji efektifitas beberapa agen kemo-preventif, termasuk beberapa produk makanan alami seperti stroberi. Mereka menemukan bahwa stroberi kering-beku secara signifikan dapat menghambat pembentukan sel-sel tumor dengan cara menghambat metabolisme NMBA, dan menurunkan laju pertumbuhan sel-sel pre-malignan (sel-sel pra-kanker).

Berdasarkan penemuan awal ini, dr. Chen melanjutkan penelitiannya ke fase 1b, penelitian kohort pada manusia dewasa dengan lesi esofageal-displastik di daerah dengan angka kejadian kanker sofagus cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan di China, dr. Chen menambahkan, karena China memiliki insidens tertinggi di dunia untuk kasus kanker esofagus. “Sekitar 50% kanker esofagus ditemukan di China,” katanya.

Pengurangan dan Perubahan Sel-sel Dysplasia pada Tingkat Molekul

Total 36 pasien diikutkan dalam penelitian ini; 31 pasien didiagnosis dengan displasia ringan (86.11%) dan 5 didiagnosis dengan displasia moderat (13.89%). Semua partisipan ini menjalani pemeriksaan endoskopi dan biopsi (sebelum dan sesudah penelitian), serta mengkonsumsi stroberi setiap harinya.

Selama 6 bulan, semua partisipan diberikan 60 gram stroberi kering-beku setiap harinya. Pada akhir periode penelitian, analisa histologis menunjukkan perbaikan pada 26 pasien dengan displasia ringan (P<0.0001), menetap pada 4 pasien, dan memburuk pada 1 pasien.

Pada pasien dengan displasia moderat, gambaran histologis menunjukkan perbaikan pada 3 pasien, dan menetap pada 2 pasien.

Dr. Chen pun menambahkan bahwa konsumsi stroberi segar kemungkinan memiliki efek yang sama, walaupun pada penelitian ini digunakan produk bubuk konsentrat stroberi kering-beku (hampir 10 kali lipat).

Efek Klinis Dexamethasone terhadap Faringitis Eksudatif Akut

In Medical Journal on January 22, 2009 at 2:02 pm

Diterjemahkan dari “Clinical Efficacy of Dexamethasone for Acute Exudative Pharyngitis”, ditulis oleh Ali Tasar, MD; Sedat Yanturali, MD; Hakan Topacoglu, MD; Gurkan Ersoy, MD; Pinar Unverir, MD; Sezgin Sarikaya, MD, diterbitkan di J Emerg Med. 2008;35(4):363-367, ed. 01/12/2009

Faringitis akut adalah peradangan pada faring dan jaringan limfoid di sekitarnya. Virus adalah penyebab tersering dari penyakit ini. Selain virus, bakteri juga bisa menyebabkan faringitis akut, dan bakteri yang paling sering menyebabkannya adalah Streptococcus α & β-hemolyticus / Streptococcus pyogenes (GABHS = group of A B-haemolytic streptococcus).

Kriteria Centor adalah parameter klinik yang paling prediktif untuk faringitis GABHS. Kriteria ini mencakup: adanya riwayat demam, tidak adanya batuk, terabanya KGB cervical anterior, dan adanya eksudat. Sensitivitas dan spesifitas kriteria ini 75%, lebih tinggi dibandingkan dengan kultur apusan tenggorokan. Karenanya, penulis yakin bahwa dalam beberapa kasus tidak perlu dilakukan tes diagnostic sebelum pemberian antibiotic.

Sebuah penelitian klinis prospektif, random, double-blinded dan terkontrol placebo telah dilakukan selama lebih dari 3 bulan di Dokuz Eylul University Hospital Emergency Department, pada tahun 2002. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah pengobatan dengan dexamethasone single-dose bisa memberikan perbaikan keluhan pada kasus faringitis eksudatif.

Penelitian ini mengikutkan semua pasien usia 18-65 tahun yang berkunjung ke UGD tersebut dengan keluhan faringitis eksudatif akut, nyeri tenggorokan, odinofagia (nyeri telan), atau kombinasinya disertai lebih dari dua criteria Centor. Pasien-pasien dengan kondisi berikut disingkirkan dari penelitian: diabetes mellitus, usia 65 tahun, HIV (+), riwayat terapi immunosuppressi, hamil, pemakaian steroid selama tujuh hari terakhir atau lebih, riwayat keganasan, abses peritonsiler/retrofaringeal, infeksi herpes aktif, infeksi jamur sistemik, kunjungan berulang ke UGD dengan keluhan sama tanpa perlakuan yang sama saat kunjungan sebelumnya, dan penggunaan antibiotic dalam tujuh hari terakhir.

Walaupun penicillin adalah antibiotic yang paling banyak diresepkan untuk faringitis GABHS, angka kegagalan terapinya mencapai 30%. Azithromycin justru lebih kuat untuk eradikasi GABHS. Selain itu, obat ini bisa memberikan efek yang lebih cepat dengan waktu pemakaian lebih singkat. Olehnya itu, antibiotic yang dipilih dalam penelitian ini adalah azithromycin.

Tiap pasien diterapi dengan azithromycin 500 mg/24 jam dan parasetamol 500 mg/6 jam selama 3 hari. Kemudian ditambahkan terapi injeksi intramuscular single dose dexamethasone 8 mg pada satu grup (grup dexa) dan injeksi intramuscular cairan NaCl dengan volume yang sama dengan dexamethasone pada grup yang lainnya (grup placebo). Pasien kemudian diminta untuk mencatat kapan waktu tepatnya keluhan dirasakan berkurang dan kapan keluhan tersebut betul-betul menghilang. Pasien-pasien tersebut kemudian dihubungi via telepon per 24 jam selama 96 jam berikutnya, untuk mengumpulkan data-data yang telah mereka catat.

Terdapat 103 pasien yang dihubungi, 30 diantaranya dikeluarkan dari penelitian karena adanya riwayat pemakaian antibiotic sebelumnya, hamil, usia >65 tahun, dan mereka yang tidak menandatangani informed consent. Empat puluh dua pasien dari grup placebo dan 31 dari grup dexa. Waktu yang dibutuhkan sejak mulainya terapi hingga berkurangnya gejala pada grup dexa adalah 8.06 ± 4.86 jam, sedangkan pada grup placebo 19.90 ± 9.39 jam (p=0.000). Waktu yang dibutuhkan hingga betul-betul bebas gejala pada grup dexa adalah 28.97 ± 12.00 jam, sedangkan pada grup placebo 53.74 ± 16.23 jam (p=0.000). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada status vital diantara kedua grup ini. Tidak terdapat efek samping dan keluhan baru terhadap pemakaian dexamethasone dan azithromycin selama proses penelitian.

Kesimpulannya, keluhan nyeri tenggorokan dan odinofagia pada pasien dengan faringitis eksudatif akut dapat berkurang lebih cepat dengan terapi dexamethasone 8 mg intramuscular single dose plus antibiotic, daripada hanya dengan antibiotic saja.

Kejang Demam Sederhana Perdana pada Anak Belum Tentu Meningitis Bakteri

In Medical Journal on January 18, 2009 at 2:10 am

Diterjemahkan dari ”First Simple Seizure in Some Young Children Not Likely Bacterial Meningitis”, ditulis oleh Laurie Barclay, MD., diterbitkan di Medscape Medical News ed. 14 Jan 09

Kejang demam seringkali memicu kecemasan pada orang tua pasien, dan pasien anak-anak tersebut lebih sering ditemui di UGD. Meningitis bakteri adalah salah satu penyebabnya yang paling ditakuti. American Academy of Pediatrics sebelumnya merekomendasikan agar anak-anak <12 bulan dengan kejang demam sederhana perdana harus dilakukan pemeriksaan lumbal pungsi (LP) untuk menyingkirkan meningitis. Rekomendasi yang diterbitkan pada Mei 1996 tersebut, juga merekomendasikan LP untuk pasien anak usia 12-18 bulan.

Akan tetapi LP mungkin tidak diperlukan pada kasus kejang demam sederhana perdana pada anak usia 6-18 bulan, disebabkan resiko meningitis bakteri pada usia tersebut sangat kecil, sesuai hasil penelitian kohort retrospektif oleh Amir A. Kimia, MD, dkk., dari Children’s Hospital Boston di Massachussetts, yang diulas dalam the January Issue of Pediatrics.

“Konsensus American Academy of Pediatrics tegas merekomendasikan untuk pemeriksaan lumbal pungsi untuk analisa cairan serebrospinal (CSF) bagi pasien kejang demam sederhana perdana usia 6-18 bulan,” tulis peneliti. “Tujuan kami adalah untuk melihat pelaksanaan rekomendasi ini dan mengetahui jumlah meningitis bakteri yang terdeteksi dari anak-anak tersebut.”

Penelitian ini mengkaji rekam medik pasien usia 6-18 bulan yang pernah berobat di UGD-pediatri periode oktober 1995 sampai oktober 2006 dengan keluhan kejang demam sederhana perdana. Keluhan ini ternyata hanya sekitar 1% dari total kunjungan anak usia tersebut selama periode yang dimaksud (704 kasus dari total kunjungan 71.234).

Dari 704 kasus tersebut, 188 kasus (27%) adalah bayi usia 6-12 bulan, dan 516 kasus (73%) adalah anak usia 12-18 bulan. Dari total jumlah tersebut hanya 271 kasus (38%) yang dilakukan pemeriksaan LP, 131 dari kelompok bayi usia 6-12 bulan (70%) dan 129 dari kelompok anak usia 12-18 bulan (25%).

Dari total 271 pemeriksaan LP yang dilakukan, 10 kasus (3.8%) didapatkan peningkatan lekosit CSF, tapi semua hasil kultur CSF negative (tidak ada pertumbuhan patogen). Walaupun 10 hasil kultur tersebut memperlihatkan adanya kontaminan, tidak satu pun pasien-pasien ini didiagnosis meningitis bakteri.
“Peluang meningitis bakteri bermanifestasi sebagai kejang demam sederhana perdana adalah sangat kecil,” demikian tulis penulis. “Rekomendasi American Academy of Pediatrics tersebut harus dikaji ulang.”